Kota Jakarta Surganya Perkantoran – Bagi perusahaan baru di Indonesia, kepastian bisnis kerap tak bisa diprediksi. Sehingga, agak sulit untuk menyewa kantor selama 12 bulan dan membayar uang muka dalam jumlah besar. Namun demikian, harga sewa di Jakarta masih lebih rendah bila dibandingkan beberapa kota besar di Asia Tenggara, seperti: Manila, Bangkok, atau Singapura. Lamudi bertemu dengan Todd Lauchlan, Country Head dari JLL Indonesia, untuk mendiskusikan tren ini.

Sejumlah persediaan ruang kantor premium telah memasuki pasar sejak 2013, namun terlihat perubahan di tahun ini: prospek positif bagi bisnis global di Jakarta membuat JLL optimis berkata, Kami memprediksi ketertarikan dari institusi investor asing akan terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya. Ruang kantor premium sebesar 260 ribu m akan selesai di akhir tahun, dan jumlah ini adalah seperlima dari jumlah ruang kantor yang ada. Ini mungkin terlihat banyak, namun menurut Todd Lauchlan, Tidak ada tanda-tanda oversupply untuk saat ini: kompetisinya akan semakin meningkat, namun kita sebenarnya masih kekurangan ruang kantor yang memiliki kualitas baik. 2 Harus diakui, kebutuhan luas lahan untuk pengembangan perkantoran masa depan sangat mencengangkan. Untuk kawasan Central Business District (CBD), sejak tahun 2010 hingga 2014, luas lahan yang digunakan mencapai 155.800 m per tahun. Sedangkan dalam rentang tahun 2015 – 2019, 600 ribu m 2 2 lahan (mungkin lebih) akan dipakai tiap tahunnya.

Kawasan Sudirman adalah salah satu area yang paling akan diuntungkan dari pembangunan ini. Untuk lima tahun ke depan, kawasan ini akan dipadati tidak kurang dari 17 proyek, yang menghabiskan lahan seluas 1.3 juta m . Kawasan bisnis lainnya pun tak mau ketinggalan. Seperti, Gatot Subroto yang memiliki 10 proyek, Mega Kuningan dan Rasuna Said masing-masing 7 dan 8 proyek. Dalam rentang tahun 2015 – 2018, perkantoran baru diprediksi tumbuh 13% lebih per tahun mayoritas berada di Jakarta Selatan, terutama TB Simatupang, dan Jakarta Barat. Beberapa pengembang raksasa berpotensi membangun proyek mixed-use di luar kawasan CBD. Selain itu, Jakarta Utara dan Pusat turut berkontribusi untuk memasok unit baru. Sedangkan Jakarta Timur, masih tertinggal jauh di belakang. Tidak ada proyek perkantoran baru dalam beberapa tahun ke depan.

Bagaimana posisi Jakarta dibanding ibukota- ibukota lain di Asia Tenggara?
Di Indonesia, Jakarta tak diragukan lagi adalah pilihan pertama untuk berbisnis. Kota yang kaya dengan gedung-gadung perkantoran bank, asuransi, dan produsen makanan ini mempunyai potensi pasar domestik yang amat besar, dengan basis bahasa lokal. Hal serupa walau tak lebih besar dibanding Jakarta terjadi pula dengan ibukota Thailand, Bangkok. Situasi ini membuat perusahaan-perusahaan internasional, yang berusaha mengakses pasar domestik tersebut, kesulitan dan sangat tergantung dengan SDM yang mampu berbahasa asing.

Faktor bahasa juga menjadi salah satu alasan mengapa Singapura, dalam skala regional Asia Tenggara, masih memimpin. Penduduk negara ini familiar berinteraksi dan berbisnis dengan bahasa Inggris. Tak heran, Singapura menjadi rumah yang nyaman untuk lebih dari 7.000 perusahaan multinasional dari Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang. China dan India, dua raksasa ekonomi, juga berinvestasi di Singapura, masingmasing 1.500 perusahaan. Dampaknya sangat terasa dalam sektor real estate. Apalagi, pada kuartal terakhir 2014, jejaring sosial seperti: LinkedIn, Facebook dan Twitter, turut berkantor ke kawasan CBD Singapura.

Untuk Filipina dan Manila, Todd Lauchan menyebutnya sebagai perpaduan kedua hal di atas. Kenapa? Karena selain memiliki pasar domestik yang besar, keduanya berbisnis dengan bahasa Inggris. Kondisi ini cukup kondusif, terutama bagi perusahaan internasional. Walaupun begitu, Singapura tetap menjadi pilihan favorit. Kuala Lumpur (KL) juga rumah bagi perusahaan-perusahaan internasional. Sekitar 14 dari 2000 perusahaan dalam daftar Forbes berkantor di sini. Dengan kehadiran bank-bank besar, seperti: Al- Rahji Bank dan Kuwait Finance House, KL siap menjadi pusat keuangan Islam global. Dengan sumber daya keuangan yang kuat, perusahaan-perusahaan ini telah mendukung persediaan perkantoran berkualitas Malaysia dalam beberapa tahun terakhir.

Gedung di Jakarta Menggunakan Genset

Jakarta sebagai surganya bisnis di Indonesia memiliki banyak sekali gedung bertingkat yang digunakan sebagai kantor perusahaan. Sudah bukan hal aneh lagi jika setiap gedung dilengkapi mesin genset dengan tujuan tidak ada gangguan dari yang namanya pemadaman listrik. Ada beberapa merek genset yang digunakan, antaranya merek Catterpilar, Cummins, Yanmar dan Fawde. Perhatikan terlebih dulu harga mesin genset yanmar dan merek lainya sebelum anda beli genset.